Sabtu, 12 November 2011

Tips Persiapan mendaki gunung



Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah kegiatan yang tidak berguna. Selain kedinginan dan kelelahan, risiko yang bakal dihadapi juga cukup besar. Banyak cerita para pendaki gunung yang tewas karena berbagai hal. Di antaranya jatuh ke jurang dan mati kedinginan.
Namun, bagi para petualang mendaki gunung menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan. Di sini, mereka bisa berjalan menusuri rimba, melewati jurang yang terjal, dan mendaki bukit. Dengan aktivitas ini pemandangan alam yang tergelar di jagad raya bisa dinikmati dengan puas.
Sebelum melakukan pendakian sejumlah persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Perbekalan, perlengkapan, dan yang penting badan yang sehat.
Dan, untuk mendapatkan perlengkapan pendakian saat ini banyak toko yang khusus menjual itu. Tinggal pilih sesuai dompet, mau merek lokal atau asing.
Ada tas punggung besar (carril), kantong tidur (sleeping bag), topi gunung, dan sandal gunung.
Persiapan Pendakian
Bagi para petualang, mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan melakukan kegiatan ini, maka seseorang bisa menyaksikan keindahan alam yang luar biasa di puncak gunung. Belum lagi dengan pemandangan yang bisa ditemui di sepanjang jalur pendakian.
Namun mendaki gunung tetap memerlukan persiapan khusus, baik teknis maupun fisik. Sebab jika tidak, maka bisa jadi mendaki gunung akan menjadi kegiatan yang sangat tidak menyenangkan.Bahkan lebih dari itu, tanpa persiapan khusus, seorang pendaki bisa mengalami celaka.
Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:
1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter (Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut), atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.
2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.
3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.
4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.
5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.
6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.
7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.
Kesiapan Mental
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya. Untuk mengetahui keadaan mental seseorang dalam kondisi fit atau tidak memang tidak mudah. Tentunya yang lebih memahami keadaan mental ini adalah diri kita sendiri. Kesiapan mental secara pribadi akan sangat berpengaruh pada kondisi tim. Jika kesiapan mental tidak dalam kondisi fit alangkah baiknya jika tidak memaksakan diri.
Kesiapan Fisik
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan (sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya). Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.
Beberapa perlengkapan atau bekal yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah :
* Carriel atau tas besar untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan
* Matras. Fungsinya adalah untuk alas duduk saat beristirahat sejenak.Matras juga bisa digunakan untuk pelapis di dalam carriel agar terlihat lebih rapi.
* Jas hujan. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat.
* Tenda.Alat ini digunakan ketika para pendaki hendak beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Tenda juga bisa melindungi para pendaki saat terjadi hujan atau angin kencang.
* Kantung tidur atau Sleeping bag.Alat ini berfungsi untuk menyelimuti saat tidur di gunung.Selain itu juga bisa digunakan sebagai alas tidur.
* Alat penerangan, seperti senter, lilin, batere cadangan, lampu badai. Dengan adanya alat penerangan yang memadai, maka kegiatan mendaki di malam hari bisa berjalan dengan lancar.
* Topi, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu khusus. Sepatu khusus ini diperlukan karena medan di pegunungan beda dengan medan di daerah yang datar sehingga memerlukan sepatu yang khusus.
* Pakaian hangat seperti jaket, kaus lengan panjang dan celana panjang kasual dengan bahan yang kuat dan nyaman pakai.
* Alat-alat P3K, suplemen makanan, makanan instan/kalengan, dan minuman mineral. Ketersediaan makanan yang cukup akan mampu memberikan energi yang cukup pula saat mendaki.
* Golok tebas, pisau lipat, dan teropong. Yang tidak kalah pentingnya adalah alat perekam (kamera atau handycam) untuk mendokumentasikan kegiatan selama pendakian
Kesiapan Administrasi
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.
Kesiapan Ketrampilan dan Pengetahuan
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC (emergency medical care) praktis.

KODE ETIK PECINTA ALAM INDONESIA


1.Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
2.Pecinta alam Indonesia sadar akan tanggung jawab kami terhadap Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.
3.Pecinta alam Indonesia sadar bahwa Pecinta Alam Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
4.Sesuai dengan hakekat diatas, kami dengan kesadaran menyatakan sebagai berikut :
a. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b.Memelihara aaalam beserta isinya serta menggunakan sumber alamsesuai kebutuhan.
c. Mengabdi kepada alam dan tanah air.
d.Menghormati tata kehidupanyang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dan kerabatnya.
e. Berusaha mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam sesuai dengan asas pecinta alam.
f.  Berusaha saling membantu serta menghargai dalam melaksanakan pengabdian kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.

Minggu, 16 Oktober 2011

Gunung Lawu : Keindahan diantara Mitos & Legenda




 
Gunung Lawu ( 3.265 mdpl ) berdiri kokoh diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan misteri dan legenda. Dalam legenda, Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan sebutan Sunan Lawu, setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh mahluk yang ada di Gunung Lawu. Gunung Lawu juga mempunyai kawah yang namanya sangat terkenal yakni kawah Condrodimuko, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat mengodok tokoh pewayangan yaitu Raden Gatut Koco, salah satu dari Pandawa lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu ” Punden Berundak “, Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi. Gunung ini juga ditumbuhi bunga Edelweis berwarna merah muda, kuning dan putih. Gunung lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral  di tanah Jawa Tengah. Hargo Dalem diyakini sebagai tempat pamoksaan Prabu Brawijaya Pamungkas, Hargo Dumiling diyakini sebagai tempat  pamoksaan Ki Sabdo Palon, dan Hargo Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering digunakan sebagai ajang menjajal kemampuan olah batin dan meditasi. Setiap orang yang pergi kepuncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar, di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni; Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jala Tunda, kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakra Surya, dan Pringondani.
Desa Cemoro Sewu maupun Dukuh Cemoro Kandang yang hanya berjarak 1km merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebh dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh darikota dan dilintasi oleh jalan raya tertingi di pualu Jawa yaitu sekitar 1.878 mdpl. karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. bahkan pada bulan Syuro ( Tahun baru menurut penanggalan Jawa ), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk kepuncak Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, petapa dan berbagai tujuan lainya. Kedua daerah gerbang pendakian tersebut merupakan daerah berbentuk saddle antara daerah tujuan wisata Sarangan yang terkenal dengan danaunya dan Tawangmangu dengan air terjunya. Kedua jalur selatan ini adalah yang paling banyak dilalui karena jalurnya mudah dan pemandanganya sangat indah. Untuk mencapai daerah ini. dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan dengan bus, kemudian naek colt menuju Sarangan (1.286 mdpl), dari sini kita naek colt jurusan Tawangmangu (1.000 mdpl), lalu naek colt jurusan Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Angkutan umum/colt dari Tawangmangu ke Sarangan atau arah sebaliknya agak sulit ditemui mulai pukul 16.00 wib. Segala fasilitas umum antara lain hotel, wartel yang paling dekat adalah daerah wisata Sarangan terletak 5 km dari Cemoro sewu atau di Tawangmangu yang juga merupakan tempat wisata. walaupun demikian, kita dapat menginap dirumah-rumah penduduk. Kita juga bisa memenuhi kebutuhan logistik tambahan untuk pendakian di warung-warung yang ada di desa gerbang pendakian ini.
Desa Cemoro Sewu (1.800 mdpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur adalah daerah yang sangat subur. Daerah yang dihuni 20 kepala keluarga dengan mata pencarian utama adalah bertani ini tampak hijau, bersih sehinga menyejukan mata yang melihatnya. Penduduknya sangat rukun, suka gotong royong, ramah terhadap pendatang  dan sangat peduli terhadap kebersihan lingkunganya, ini terbukti  dengan didapatnya trofi Jawa Timur tahun 1991 dan Kalpataru untuk kategori pengabdi Lingkungan tahun 1992 oleh Bapak Sardi Kamituo desa Cemoro Sewu. Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 mdpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk jalur pendakian,panjangnya 6,5 km,  berupa jalan makadam mulai desa sampai mendekati puncak. Di desa Cemoro Sewu ini kita mempersiapkan air untuk perjalanan naik dan turun. Kita akan melewati hutan pinus dan akasia di sisi kiri dan kanan sampai pada ketingian lk 3.000mdpl. Dalam pendakian ini kita akan melewati 4 buah pos pada ketinggian 2.100 mdpl, 2.300 mdpl, 2.500 mdpl dan sampai di pos IV dengan ketinggian 2.800 mdpl dengan waktu 4-5 jam. Setelah pos IV ini pepohonan mulai rendah sampai kita harus menyusur punggungan, jalannya berupa tanah mendatar dan disisi kanan terdapat jurang. Kurang lebih 10 menit kita akan sampai di Sendang Drajat, sebuah sumber air yang di anggap keramat oleh para peziarah. di daerah ini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya akan mendapat “ilmu”. Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam. Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadang kala dapat ditemukan air. jika tidak mau menginap di Sendang drajat, kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah (3.265 mdpl) sedang kekanan menuju Argo dalem (3.148 mdpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit.
Alun-alun Argo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun lembah kebawahnya. Ada pondok utamayang biasanya menjadi tujuan para peziarah yang datang, lengkap dengan barang-barang persembahanya puncak Gunung Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi. Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. selain Matahari terbit, kita bisa memandang ke arah barat, akan tampak puncak gunung Merapi dan Merbabu, dan dari arah timur akan terlihat puncak gunung Kelud, Butak dan Wilis.
Gerbang Jawa Tengah: Desa Cemoro Kandang. Jalur yang dimulai dari Desa Cemoro Kandang ini, panjangnya sekitar 12 km juga paling sering digunakan untuk pendakian, karena tidak terlalu menanjak dan pemandanganya sangat indah. Diseberang gerbang pendakian terdapat warung-warung, juga bisa untuk menambah logistik, air juga harus dipersiapkan disini untuk perjalanan naik sampai turun lagi. Kita mulai perjalanan melalui hutan akasia dan pinus dengan kondisi jalan berbatu kurang lebih 1,5 jam, kita sampai pada pos 1 Taman Sari bawah. kemudian kita melewati jalan tanah dari hutan cemara dan pinus sekitar 30 menit akan menemui pos II Taman Sari atas. dari sini kita masih melewati hutan  dan menyisir bukit, setelah perjalanan selama 2,5 jam kemudian kita sampai di pos III Penggik (2.760 mdpl). Dari pos Penggik kita menuju pos IV Cokrosuryo dengan melewati hutan, kemudian menyisir bukit, disebelah kiri kita ada jurang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Jika kita tidak ingin menginap di Cokrosuryo kita bisa berjalan terus ke Argo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. dalam perjalanan ke Argo Dalem kita akan menemui sebuah pos yang rusak dipertigaan yang kekanan ke Argo Dumilah dan yang lurus Menuju Argo Dalem.
Perlengkapan dan Tips ; Perjalanan pendakian ke Gunung Lawu jika melalui Cemoro Kandang membutuhkan waktu 8-9 jam dan 5-6 jam untuk turun, sedang dari Cemoro Sewu dibutuhkan waktu 6-7 jam untuk pendakian dan 4-5 jam untuk turun. Pakaian yang tahan angin dan tahan air serta peralatan untuk tidur sebaiknya dibawa untuk kenyamanan  perjalanan pendakian. Jika ingin pendakian anda tidak terlalu ramai maka sebaiknya melakukan pendakian pada hari-hari biasa ( Senin- Jumat)
Perijinan dan Pemanduan : Untuk perijinan pendakian ke Gunung Lawu sampai saat ini masih belum ada keharusan ijin yang resmi dari instansi terkait yang mengaku daerah pendakian ini, dan anda cukup mendaftar diri kepetugas yang ada dipos pendakian Cemoro Kandang  atau Bapak Sardi, Kamituo di desa Cemoro Sewu serta meningalkan kartu pengenal diri.

Sabtu, 15 Oktober 2011

penmas


sakrapala kembali mengadakan penmas yang tahun ini bertujuan ke Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.
pelaksanan pada tanggal 23-24 oktober 2011 dengan melibatkan seluruh siswa SMK N 9 Surakarta, namun tidak menutup kemungkinan juga menerima peserta dari luar sekolah tetapi terbatas.
acara ini dilaksanakan sebagai agenda tahunan yang bertujuan untuk lebih mengenalkan kegiatan alam bebas yang bermanfaat untuk saling mendekatkan diri kepada alam dan juga meningkatkan solidaritas anggota maupun peserta.
viva sakrapala.

Kamis, 22 September 2011

Sakrapala Baru


Sakrapala merupakan sebuah organisasi siswa SMK N 9 Surakarta yang bergerak dalam bidang Pecinta Alam.
Organisasi ini terbentuk atas dasar satu tujuan para siswa yang ingin berkecimpung dalam dunia kegiatan alam bebas, meskipun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan masih menyesuaikan kondisi dari lingkungan dan sekolah.
organisasi ini sudah kurang lebih % tahun berdiri dan masih eksis sampai sekarang. dengan formasi pengurus yang baru yang diharapkan nantinya dapat memberikan perkembangan yang positif bagi organisasi dan sekolah.
SALAM LESTARI.